KOMPONEN DALAM
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
TUGAS MATA KULIAH
PENULISAN KARYA ILMIAH
Dosen Pengampu
Dr.Doddy Kustaryono
Disusun Oleh:
Nama : Limson
Putislulut
NIM : 10010110015
Prodi : Matematika
Semester : 4
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN
DAN
ILMU PENDIDIKAN SURYA
(STKIP SURYA)
TANGERANG
2012
LEMBAR PENGESAHAN
|
Judul Makalah
|
:
|
Komponen Dalam Manajemen Berbasis
Sekolah
|
|
Nama peneliti
|
:
|
Limson
Putislulut
|
|
NIM
|
:
|
10010110015
|
|
Prodi
|
:
|
Matematika
|
|
Semester
|
:
|
IV
|
|
Tangerang, 01 Maret 2012
Penulis
Limson Putislulut
NIM :10010110015
|
||||
|
Mengesahkan
|
||||
Dosen Pembimbing
Dr.Doddy Kustayono
Intisari
Komponen dalam manajemen
berbasis sekolah perlu diperhatikan dalam suatu satuan pendidikan yang ada di
indonesia, khususnya di SD Gmit Bokonusan, komponen-komponen berbasis sekolah itu sangat mendukung
terciptanya tujuan pendidikan yang bermutu dan juga memotivasi siswa sehingga
mereka semangat dan terus belajar dengan baik. Tentunya semua ini sangat
dibutuhkan kerja sama yang baik dari berbagai segi yang dapat membantu dan mesukseskan satuan pendidikan tersebut.
Hasil yang di capai nanti akan sangat berpengaruk terhadap pendidikan Nasional
Indonesia.
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolonganNya saya dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul ”Komponen Dalam Manajemen
Berbasis Sekolah” . Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang saya alami dalam proses pengerjaannya, tapi saya bisa menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa saya
mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu saya dalam mengerjakan karya ilmiah ini. Kami juga mengucapkan
terimakasih kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi
baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan karya ilmiah ini.
Tentunya
ada hal-hal yang ingin saya berikan kepada masyarakat dari hasil karya ilmiah ini. Karena itu say berharap semoga karya ilmiah ini dapat
menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama. Pada bagian akhir, saya akan mengulas tentang berbagai masukan dan pendapat dari orang-orang
yang ahli di bidangnya, karena itu saya harapkan hal ini juga dapat berguna bagi kita bersama.
Semoga
karya ilmiah yang saya buat ini dapat membuat kita mencapai kehidupan yang lebih baik lagi.
Tangerang,01
Maret 2012
Penulis
Limson
Putislulut
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………
KATA PENGANTAR……………………
DAFTAR ISI ………………………………
BAB I PENDAHULUAN …………………
A. Latar Belakang………………………
B. Rumusan Masalah ……………………
C. Tujuan Penelitian
D. Manfaat Penelitian
BAB II PEMBAHASAN ………………………
A. Komponen dan manajemen
berbasis
sekolah ……………………………
B. Manajemen
Kurikulum ………………………………
C. Manajemen
Pembelajaran
atau pengajaran ……………………
D. Manajemen
tenaga kependidikan ……………
E. Manajemen Kesiswaan ………………
F. Manajemen
Keuangan ……………………………
G. Manajemen sarana
dan Prasarana ……………
H. Manajemen
Layanan Khusus……………………………
BAB III PENUTUP…………………………
A. Kesimpulan ……………………
B. Saran………………………
DAFTAR PUSTAKA………
BAB I
A.
Latar Balakang
Dewasa ini
globalisasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai
lingkungan termasuk lingkungan pendidikan. Salah satu contoh
perubahan mendasar yang sedang diterapakan saat ini adalah Manajemen Berbasis Sekolah.
Pemerintah telah melakukan sosialisasi ditingkat sekolah dasar pada khususnya
tentang pengaruh dan kegunaan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap peningkatan
mutu dan kualitas sekolah menuju kearah yang lebih baik, akan tetapi hal
tersebut tidak mendapat respon yang positif dari pihak sekolah. Terbukti dengan
masih banyaknya angka partisipasi pendidikan nasional yang kurang baik dan kualitas pendidikan tetap
menurun. Diharapkan pelaksanaan
Manajemen Berbasis Sekolah sesuai dengan anjuran yang diberikan sehingga Manajemen Berbasis Sekolah
dapat berhasil mengangkat dan memecahkan masalah pendidikan yang
ada. Hal tersebut diharapkan akan pada peningkatan kualitas pendidikan di
Indonesia.
Dalam Manajemen Berbasis Sekolah, sekolah memiliki wewenang yang besar
dalam mengelola kebijakannya. Oleh karena itu,
kepala sekolah dalam mengelola
sekolah sangatlah penting, selain peran guru, siswa, maupun peran serta
masyarakat tentunya. Dalam pengelolaan sekolah diperlukan suatu kemampuan
manajerial.
Dari hal tersebut jelas terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah
sangatlah vital dalam pengelolaan sekolah. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya
sebuah sekolah apabila kepala sekolah tidak memiliki kemampuan manajemen maka
yang terjadi adalah kurangnya pengelolaan, baik itu pengelolaan kurikulum,
pengelolaan pembelajaran, pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan,
pengelolaan kesiswaan, pengelolaan keuangan, pengelolaan sarana dan prasarana,
pengelolaan hubungan kemasyarakatan, serta pengelolaan layanan khusus. Akan
tetapi, pengelolaan tersebut tidak semata-mata tugas dari kepala sekolah saja.
Dibutuhkan kerjasama yang baik antara komponen sekolah itu sendiri. Baik dari
guru, siswa, orang tua siswa, maupun komite sekolah. Apabila kerjasama terjalin
dengan baik, maka tujuan pendidikan yang diharapkan akan lebih mudah tercapai.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, terdapat
beberapa rumusan masalah dalam kaitannya dengan komponen Manajemen Berbasis
Sekolah, yaitu sebagai berikut:
A. Apakah
pengertian dari komponen dan Manajemen Berbasis Sekolah?
B. Bagaimanakah Manajemen
Kurikulum?
C. Bagaimanakah
Manajemen Pembelajaran atau Pengajaran?
D. Bagaimanakah
Manajemen Ketenagaan?
E. Bagaimanakah
Manajemen Kesiswaan?
F. Bagaimanakah
Manajemen Keuangan dan Pembiayaan?
G. Bagaimanakah
Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan?
H. Bagaimanakah
Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat?
I. Bagaimanakah
Manajemen Layanan Khusus?
Untuk menjawab beberapa rumusan masalah di atas, berikut penjelasannya
dalam Bab II
c. Tujuan penelitian
Dalam penyusunan karya ilmiah ini, tentunya
memiliki tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuannya adalah agar dapat:
1. Mengetahui
komponen dalam manajemen berbasis sekolah
2. Mengetahui
bagaimana caranya dalam menerapkan
manajemen berbasis sekolah
3. Harapan yang diinginkan setelah manajemen
berbasis sekolah diterapakn
4. Apa
tujuan dari komponen berbasis sekolah
5. Untuk
memenuhi tugas mandiri mata kuliah Bilogi Dasar
D.Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi
kepada sekolah mengenai betapa pentingnya komponen dalam manajemen berbasis
sekolah,
2. Memberikan informasi
dalam menjalankan metode-metode yang digunakan dalam manajemen sekolah sehingga
mutu sekolah tersebut dapat lebih baik lagi
3. Para pendidik dapat
mengetahui cara yang baik untuk mengajar siswa
4. Penggunaan fasilitas
sarana dan prasarana sekolah yang menunjang siswa untuk belajar
BAB II
A. KOMPONEN DAN
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Secara umum, komponen
merupakan bagian dari sebuah sistem utuh.
Mengenai
pengertian Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS), Nurkholis (2003: )
menyatakan bahwa:
Manajemen Berbasis Sekolah adalah model pengelolaan sekolah
berdasarkan kekhasan, kebolehan, kemampuan, dan kebutuhan sekolah,yang
dilakukan secara partisipatif, transparan, akuntabel, berwawasan kedepan, tegas
dalam penegakan hukum, adil, prediktif, peka terhadap aspirasi stakeholder,
pasti dalam jaminan mutu, professional, efisien dan efektif dalam rangka
peningkatan mutu.
Sedangkan menurut Mulyasa (2009: ) menyatakan bahwa: “MBS adalah salah
satu wujud dari reformasi pendidikan, yang menawarkan kepada sekolah untuk
menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi peserta didik.”
Tidak terlalu berbeda
dengan pendapat di atas, Rohiat (2008: ) juga menyatakan bahwa:
MBS adalah model pengelolaan yang memberikan otonomi, memberikan
fleksibilitas atau keluwesan pada sekolah, mendorong partisipasi sekolah secara
langsung dari warga sekolah dan masyarakat dan guna meningkatkan mutu sekolah
berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta perundang-undangan yang
berlaku.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat kita pahami bahwa komponen merupakan
bagian dari sebuah keutuhan. Dalam hal ini keutuhan yang dimaksud adalah MBS.
Jadi komponen dalam MBS memiliki makna bagian-bagian,dari Manajemen Berbasis
Sekolah. Bagian-bagian tersebut antara lain: Manajemen Kurikulum, Manajemen
Keuangan, dan sebagainya.
B. MANAJEMEN KURIKULUM
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu (Kurikulum SD Gmit Bokonusan, kec semau, kab Kupang,NTT). Tujuan meliputi tujuan pendidikan nasional serta, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan
dan potensi yang ada di daerah. Perencanaan dan
pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Departemen
Pendidikan Nasioanal. Karena itu sekolah merealisasikan dan menyesuaiakan
kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Disamping itu, sekolah juga
bertugas dan berwenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat.
Menurut Nurkholis (2003) menyatakan bahwa: “Sekolah dapat mengembangkan,
namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang
dikembangkan oleh Pemerintah Pusat. Sekolah juga diberi kebebasan untuk
mengembangkan kurikulum muatan lokal.”
Pengembangan kurikulum muatan lokal telah dilakukan sejak digunakkannya
Kurikulum 1984, khususnya di sekolah dasar (Mulyasa, 2009. Pada kurikulum
tersebut muatan lokal disisipkan pada berbagai bidang studi yang sesuai. Dalam
kurikulum 1994, muatan lokal tidak lagi disisipkan pada setiap bidang studi.
Jadi intinya adalah dalam pengelolaan kurikulum yang bersifat nasional,
sekolah tidak berhak mengurangi isinya. Yang boleh dikembangkan adalah muatan
lokal yang disesuaiakan sesuai dengan kondisi dan karakteristik sekolah
masing-masing.
C. MANAJEMEN
PEMBELAJARAN ATAU PENGAJARAN
Sekolah diharapkan dapat mengembangkan program pengajaran serta
melaksanakan pengawasan dalam pelaksanaannya. Dalam proses pengembangan program
sekolah, manajer hendaknya tidak membatasi diri pada pendidikan, ia harus
menghubungkan peserta didik dan kebutuhan lingkungan.
Dalam kepentingan kepala sekolah sebagai manajer, ia harus bertanggung
jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan
program pengajaran di sekolah. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada empat
langkah yang harus dilakukan. Menurut Mulyasa (2009), empat langkah tersebut
yaitu: menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan
kebutuhan murid, meningkatkan perencanaan program, memilih dan melaksanakan
program, serta menilai perubahan program.
Sekolah diberi kebebasan untuk memilih strategi, metode, dan teknik
pembelajaran yang paling efektif (Nurkholis, 2003). Dalam kaitannya dengan hal
tersebut, maka dalam proses pembelajaran atau pengajaran ada baiknya bersifat
terpusat pada siswa.
Mengenai pembelajaran
bersifat pada siswa, Rohiat (2008: 65)
menyatakan bahwa:
Yang dimaksud dengan
pembelajaran berpusat pada siswa adalah pembelajaran yang menekankan pada
keaktifan belajar siswa, bukan pada keaktifan mengajar guru. Oleh karena iitu,
cara-cara belajar siswa aktif perlu diterapkan.
Berikut beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan program
pengajaran:
1. Tujuan yang hendak dicapai harus jelas;
2. Bersifat sederhana dan fleksibel;
3. Sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan;
4. Bersifat menyeluruh dan harus jelas pencapainnya;
5. Ada koordinasi antar komponen pelaksana program.
Dari beberapa prinsip di atas, apabila dapat dilaksanakan semua maka tujuan
yang diharapkan akan lebih mudah tercapai. Selain itu, dalam pengelolaan
sekolah harus ada pembagian tugas guru, penyusunan kalender pendidikan,
program-program pembelajaran. Dengan tujuan agar pelaksanaan pembelajaran dapat
berjalan dengan teratur.
D.MANAJEMEN TENAGA
KEPENDIDIKAN
Ketenagaan dalam sekolah identik dengan
posisi guru sebagai pendidik maupun tenaga kependidikan. Adanya pembagian tugas
yang jelas antara ketenagaan yang satu dengan yang lainnya akan menunjang
kelancaran dari pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
Menurut Mulyasa (2009) manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil)
mencakup :
(1) perencanaan pegawai,
(2) pengadaan pegawai,
(3) pembinaan dan pengembangan
pegawai,
(4) promosi dan mutasi,
(5) pemberhentian pegawai,
(6) kompensasi,
(7) penilaian pegawai.
Mengenai pengelolaan ketenagaan, Nurkholis (2003)
menyatakan bahwa:
Pengelolaan ketenagaan
mulai dari analisis kebutuhan perencanaan, rekrutmen, pengembangan, penghargaan
dan sanksi, hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat
dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri .
Tugas kepala sekolah dalam kaitannya dengan manajemen tenaga kependidikan
bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak hanya mengusahakan tercapainya
tujuan sekolah, tetapi juga tujuan tenaga kependidikan (guru dan pegawai)
secara pribadi. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut untuk mengerjakan
instrumen pengelolaan tenaga kependidikan, seperti daftar riwayat pekerjaan,
dan kondisi pegawai untuk membantu kelancaran MBS di sekolah yang dipimpinnya.
E. MANAJEMEN
KESISWAAN
Mengenai Manajemen Kesiswaan, Mulyasa (2009) menyatakan bahwa:
Manajemen kesiswaan
adalah penataan dan pengaturan kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik
(siswa), mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu
sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta
didik, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat
membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses
pendidikan di sekolah.
Tujuan dari manajemen kesiswaan yaitu untuk mengatur berbagai kegiatan
dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan
dengan lancar, tertib, dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah.
Tanggung jawab kepala sekolah menurut Sutisna (1985) dalam Mulyasa (2009)
sebagai berikut:
1. Kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan
dengan itu;
2. Penerimaan, orientasi, klarifikasi, dan penunjukkan murid kelas dan
program studi;
3. Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar;
4. Program supervisi bagi murid yang mempunyai kelainan, seperti : pengajaran,
perbaikan, dan pengajaran luar biasa;
5. Pengendalian dan disiplin murid;
6. Program bimbingan dan penyuluhan;
7. Program kesehatan dan keamanan;
8. Penyesuaian pribadi, sosial, dan emosional.
Nurkholis (2003) dan Rohiat (2008) menyatakan bahwa: “Yang diperlukan dalam
manajemen kesiswaan adalah intensitas dan ekstensinya.”
Yang perlu diperhatikan dalam manajemen kesiswaan adalah bahwa sekolah
tidak hanya mengembangkan pengetahuan anak saja, akan tetapi juga harus
mengembangkan sikap kepribadian, aspek sosial emosional, disamping
keterampilan-keterampilan yang lain. Sehingga akan tercipta peserta didik yang
cerdas intelejen, emosional, maupun spiritualnya.
F. MANAJEMEN
KEUANGAN
Keuangan merupakan salah satu sumber dari sekolah yang secara langsung
menunjang kelangsungan dari sekolah tersebut dalam efektifitas dan efisiensi
pengelolaan pendidikan. Dalam MBS, hal tersebut akan jauh lebih terasa, karena
menuntut sekolah untuk merencanakan,mengelola,mengevaluasi,serta
mempertanggungjawabkan penggunaan keuangan secara transparan.
Sekolah diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang
mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata bergantung
pada pemerintah (Nurkholis, 2003). Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa
sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya sehingga uang sudah seharusnya
dilimpahkan ke sekolah (Rohiat, 2009)
Mulyasa (2009) menyatakan bahwa: “Sumber keuangan dan pembiayan sekolah
secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
(1) pemerintah,
(2) orang tua atau peserta didik,
(3) masyarakat.”
Dalam pengelolaan keuangan di sekolah, diperlukan rasa tanggungjawab yang
besar dari semua komponen sekolah agar penggunaannya dapat maksimal dan sesuai
sasaran. Dengan penggunaan yang tepat, maka semua kebutuhan sekolah dalam hal
peningkatan pembelajaran, baik teknis ataupun non-teknis akan tercukupi
sehingga sekolah dapat berjalan dengan lancar, teratur dan bertanggungjawab.
G. MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA
( FASILITAS )
Mengenai sarana dan prasarana pendidikan, Mulyasa (2009) menyatakan bahwa:
Sarana pendidikan adalah
peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang
proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang
kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud
dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung
menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun,
taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung
untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi,
halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olahraga, komponen tersebut
merupakan sarana pendidikan.
Manejemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan
sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan
baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah.
Nurkholis (2003) dan Rohiat (2008) sepakat bahwa pengelolaan fasilitas
seharusnya dilakukan oleh sekolah mulai dari pengadaan, pemeliharaan, dan
perbaikan hingga pengembannya.
Melihat alasan dari pendapat di atas, dapat dipahami bahwa dalam MBS,
sekolah yang benar-benar mengetahui kondisi dan kebutuhan fasilitas untuk
pengembangan sekolahnya masing-masing.
H. MANAJEMEN LAYANAN KHUSUS
Menurut Mulyasa (2009) manajemen layanan khusus meliputi manajemen
perpustakaan, kesehatan, dan keamanan sekolah.
1) Manajemen perpustakaan
Perpustakaan yang lengkap dan dikelola
dengan baik akan menunjang perkembangan peserta didik dalam hal perkembangan pengetahuan.
Disamping itu juga memungkinkan bagi guru untuk mengembangkan pengetahuan
secara mandiri, dan juga dapat mengajar dengan metode bervariasi, misalnya
belajar individual.
2) Manajemen Kesehatan
Sekolah sebagai satuan
pendidikan yang bertugas dan bertanggungjawab terhadap proses pembelajaran,
tidak hanya bertugas mengembangkan pengetahuan saja, tetapi juga harus
meningkatkan jasmani dan rohani siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional yaitu mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.
Sebagai tindak lanjut dari hal tersebut, maka di sekolah diadakan UKS ( Usaha
Kesehatan Sekolah)
3) Manajemen Keamanan
Dengan tujuan memberikan
rasa tenang dan nyaman dalam mengikuti proses belajar dan mengajar bagi
komponen sekolah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari beberapa komponen MBS yang telah diuraikan di atas, sebenarnya ada
benang merah dari pelaksanaan MBS, yaitu bahwa sekolah mempunyai kewenangan
dalam mengelola sekolahnya. Alasan yang menguatkan hal tersebut karena sekolah
dianggap lebih memahami dan mengetahui kondisi yang ada di sekolah, baik
mengenai program pembelajaran, ketenagaan, kesiswaan, keuangan, sarana dan
prasarana, hubungan dengan masyarakat serta layanan khusus. Akan tetapi
kewenangan tersebut tidak dalam arti semuanya merupakan kewenangan sekolah. Ada
hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya dalam hal kurikulum. Sekolah hanya
berwenang menjabarkan kurikulum nasional dan mengembangkan kurikulum muatan
lokal sesuai dengan karakteristik daearahnya masing-masing.
Jadi konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagaimana
telah diuraikan di atas, adalah kewenangan yang besar pada sekolah dengan
tuntutan kemampuan dari kepala sekolah dengan dukungan dari guru, peserta
didik, masyarakat, serta pemerintah.
B. Saran
1. Komponen-komponen MBS seperti diuraikan di atas akan berjalan
dengan baik apabila kemampuan manajerial kepala sekolah baik dengan didukung
oleh semua komponen sekolah yang ada;
2. Sebaiknya semua komponen dalam sekolah memahami tugas dan
kewajibannya masing-masing sehingga akan tercipta kondisi yang baik demi
tercapainya tujuan pendidikan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
E. Mulyasa. 2009. Manajemen
Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Nurkholis. 2003. Manajemen
Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Rohiat. 2008. Manajemen Sekolah.
Bandung: PT Refika Aditama.
Tim Pengembang Kurikulum. 2010. Kurikulum
SD Gmit Bokonusan, kec semau, kab kupang, NTT
Kepala sekolah,
Singsigus Panduwal.2010 ,.dkk,.